*Temazaro Zega: Kekayaan Wisata Nias Tidak Hanya Sebatas Potensi Pantai
Medan (SIB)
Gunung Hili Maziaya di kawasan Desa Maziaya Kecamatan Lotu, dengan ketinggian antara 3.500 meter hingga 4000 meter di atas permukaan laut, dinilai sangat potensial untuk dijadikan wisata ecouturism (ekowisata) andalan di wilayah Nias Utara, karena memiliki spesifikasi alam yang menantang minat para wisatawan.
Praktisi sastra dan pemerhati pembangunan daerah Nias, Drs Temazaro Zega dari Forum Komunikasi Masyarakat Kabupaten Nias Utara (FKM Kanira) menyebutkan Nias Utara sebagai daerah baru hasil pemekaran dari Kabupaten Nias, dinilai perlu bergerak cepat menggali dan menginventarisir unit-unit alam dan budaya sekitar untuk dijadikan objek wisata andalan disamping objek wisata yang sudah adaselama ini.
"Gunung Hili Maziaya ini cukup unik dari spesifik untk disajikan kepada para wisatawan, terutama para wisatawan tualang (avonturir) tingkat lokal maupun mancanegara.
Selain masih tetap memiliki rona alami yang asli (pure nature), objek yang memang mirip gunung ini juga bisa menjadi salah satu ciri khas pariwisata Nias Utara atas opini atau asumsi dominan selama ini bahwa kekayaan pariwisata Nias hanya berupa objek pantai," katanya kepada SIB di Medan, Rabu (7/4) lalu.
Dia mengutarakan hal itu dalam satu temu diskusi pembangunan Nias Utara pasca pemekaran, yang digelar sebagai forum urun rembuk dan sumbang saran atas pelaksanaan musyawarah rencana pembangunan (Musrenbang) Propinsi Sumut pada 30 Maret - 1 April lalu di Medan.
Diskusi yang melibatkan pengurus FKM Kanira yang dipimpin ketua umumnya Yos Lase SH, dan sejumlah warga asal Nias itu khusus membahas sejumlah gagasan yang dinilai strategis di jadikan masukan bagi pihak pemerintah daerah (Pemda) kabupaten baru di sekitar Kepulauan Nias pasca pemekaraan Nias.
Khusus untuk Nias Utara, Kanira terutama dari pihak warga selaku putra-putri asal desa Maziaya sekitarnya seperti Desa Hilinduria dan Lawira Satua, menggagasi agar Gunung Hili Maziaya dapat dimasukkan dalam daftar objek wisata reguler di lingkungan Dinas Pariwisata setempat. Lokasi gunung itu, ujar Temazaro, tidak begitu jauh dari desa Maziaya sendiri karena bisa ditempu satu jam (kurang lebih). Saat ini, memang sudah terdapat prasarana akses berupa jalan setapak yang sebelumnya memang sering dilintasi warga sekitar.
Selama ini, warga sekitar yang menuju atau mendaki gunung' itu hanya bersifat kunjungan sepintas atas tradisi masyarakat yang mencari kayu-kayu bakar di sekitar hutan, berburu burung, atau kebetulan mengolah ladang yang ada di sekitar lereng gunung itu.
Secara umum, akses utama menuju gunung untuk sementara ini adalah desa Hilinduria atau desa Lawira Satua setelah masuk ke Pasar Lahewa (ibukota Kabupaten Nias Utara). Dari kedua desa ini para pengunjung atau penggemar daki gunung atau panjat tebing dan cross country masih bisa menempuh lokasi dengan kendaraan roda empat, terutama tipe gardang ganda (four wheel drive) atau sepeda motor, lalu menempuh lanjut dengan jalan kaki.
Di ujung desa Maziaya, sudah terdapat satu lokasi yang sangat strategis untuk dijadikan halte atau pondok rehat sementara bagi para pengunjung sebelum melanjutkan langkahnya untuk mendaki.
"Saat ini, kami sedang berembuk untuk membuat daftar objek-objek yang akan diajukan kepada Pemda untuk dijadikan objek wisata resmi di Nias Utara. Di Tuhemberua misalnya perlu dibangun dermaga wisata karena potensi pantainya yang datar dan lurus persis di sisi jalan raya (darat) sehingga pas untuk paket kapal-kapal wisata mini.
Lahewa dengan pantai alam lautan bebasnya dan mutiara gugusan pulau-pulau kecilnya. Afulu dengan potensi desa-desa tradisionilnya yang masih asli dan perlu dipertahankan orisinalitasnya. Demikian juga dari Alasa dan Namohalu Esiwa. Masing-masing Nias pasca pemekaraan ini pasti akan menyajikan objek wisata andalannya.
Kalau dulu ketika Nias masih satu mengandalkan Pantai Sorakenya sebagai objek andalan, kini Pantai Sorake itu sudah menjadi milik Nias Selatan. Pantai Sirombu sudah milik Nias Barat, Pantai Olora milik Nias, Pantai Miga milik Kota Gunung sitoli, Pantai Tuhemberua dan Lahewa milik Nias Utara.
Tapi, apakah kekayaan wisata Nias hanya berupa pantai saja...? Tentu tidak, tentu banyak unit objek lainnya seperti gunung atau bebukitan alami, selain objek atau desa budaya sekitarnya," papar temazaro optimis. (M9/r)
Langganan:
Posting Komentar (Atom)

Tidak ada komentar:
Posting Komentar